Mati Syahid di Atas Salib

 

Suatu saat, Rasulullah Saw. ingin mengetahui gerak-gerik kaum kafir Quraisy maka beliau mengirim sepuluh pejuangnya untuk melakukan misi tersebut. Di antara sepuluh pejuang yang diutus oleh Rasulullah Saw tersebut adalah Khubaib bin Ady dan Zaid bin Ditstsinah. Mereka dipimpin oleh Ashim bin Tsabit.

Ketika mereka tiba di suatu tempat yang berada di antara Asfan dan Mekah, suku Hayyan dari kabilah Hudzail sempat melihat mereka, lalu suku Hayyan itu mengintai para pejuang utusan dan berhasil membunuh delapan orang di antara mereka sedang sisanya Khubaib bin Ady dan Zaid bin Ditstsinah berhasil mereka tangkap. Setelah itu, keduanya dijual oleh suku Hayyan kepada kaum kafir Quraisy, lalu mereka menyiksa Zaid hingga tewas sedangkan Khubaib masih dibiarkan hidup dengan 2 pilihan, mati di tiang salib atau kembali pada agamanya semula (kafir).

Pada saat hendak dihukum salib, Khubaib meminta izin kepada mereka untuk melaksanakan sholat tetapi mereka tidak mengizinkannya dengan harapan agar Khubaib mau kembali kepada kekafirannya. Tetapi akhirnya Khubaib tetap melakukan sholat meski tidak diijinkan olah kaum kafir Quraisy. Khubaib berkata, ”Demi Allah, seandainya kalian tidak mengancam untuk membunuhku maka niscaya aku akan tambah lagi sholatku.” Kemudian ia pun mendoakan mereka, ”Ya Allah, hitunglah jumlah mereka dan bunuhlah mereka semuanya!” Karena didoakan seperti itu maka kaum kafir Quraisy pun segera menyalibnya, dan Khubaib sempat melantunkan sebuah syair sebelm kematiannya menjemput,

“Aku tidak peduli bila harus dibunuh
karena aku seorang muslim
Karena setelah itu,
tempat tinggalku berada di sisi Allah
Sedang hidup seperti itu sungguh indah
Dan Mungkin juga nanti akan bertemu
dengan para kekasih tercinta.”

Setelah itu kaum kafir quraisy menimpali ucapan Khubaib tersebut, ”Apakah kamu ingin Muhammad menggantikan tempatmu? Sedangkan kamu sendiri akan sehat dan senang berada di tengah keluargamu?”

Khubaib menjawab, “Demi Allah, aku sama sekali tidak ingin berada di tengah keluargaku sambil menikmati indahnya dunia sedangkan Rasulullah Saw sedang tersakiti walau tertusuk duri sekalipun.”

Abu Sufyan yang sempat mendengar jawaban yang terlontar itu lalu memberikan komentar, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorangpun yang mencintai orang lain seperti cintanya sahabat Muhammad kepadamya.”

Selesai bercakap-cakap, anak-anak panah kaum kafir Quraisy segera berhamburan melesat ke tubuh Khubaib dan tombak Abu Maisarah dari bani Abdud Daar yang mengakhiri nyawa Khubaib, maka ia pun pergi menuju Tuhannya sebagai pahlawan syahid dengan gagah berani.

Dipetik dari Buku “100 Kisah Teladan Tokoh Besar” karya Muhammad Sa’id Mursi & Qasim Abdullah Ibrahim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s