Sujud Seharga Surga

Abu Firas, Rabi’ah bin Ka’b Al Aslami, adalah seorang pria yang seringkali melayani Rasul saw. Karena seringnya maka suatu ketika Rasul saw bermaksud membalas budinya dengan memberinya sesuatu yang bersifat material dan dalam jangkauan kemampuan beliau.

Beliau bersabda : “Hai Abu Firas, pintalah sesuatu kepadaku.”

Mendengar itu, langsung saja Abu Firas berkata : “Aku meminta kiranya aku dapat menemanimu di surga.”

Nabi saw. terperanjat, karena tidak menduga yang dimintanya surga. “Mintalah yang lain!” jawab Nabi mengelak.
“Tidak ada yang lain, hanya itu, wahai Rasul.”
“Jika demikian, maka bantulah aku (guna memperoleh permintaanmu itu) dengan memperbanyak sujud.” Demikian pesan Rasulullah kepadanya (HR. MUSLIM).
Hadist semakna diriwayatkan oleh sahabat Nabi yang lain yaitu Tsauban. Menurutnya Rasul saw pernah menyampaikan kepadanya bahwa : “Hendaklah engkau memperbanyak sujud, karena tidaklah engkau sujud karena Allah, kecuali Allah mengangkat dengan sujud itu satu derajat dan menggugurkan satu dosa.”

Yang dimaksud dengan sujud dalam hadists-hadists di atas, bukan sekedar meletakkan ke-tujuh anggota badan (dahi, kedua telapak tangan, dan kedua lutut serta jari-jari kaki ke lantai), tetapi hal itu bermakna sikap kejiwaan yang tercermin dalam perasaan seseorang tentang kehebatan dan keagungan Allah, rahmat dan kasih sayang-Nya, yang mengantar kepada kepatuhan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Itu pula lah yang dilukiskan Nabi saw sebagai saat terdekat seeorang kepada Allah. “Sedekat-dekat seseorang hamba kepada Allah, adalah saat ia sujud.”

Perjalanan menuju ke surga sungguh panjang, di sana-sini banyak gangguan. Ada yang berupa godaan dan rayuan, ada juga ancaman yang menakutkan. Tetapi bila tekad dibulatkan dan perjalanan dilanjutkan, maka akan tahu bagaimana menampik dan menghindarinya. Yang dibutuhkan hanyalah niat yang tulus, tekad yang kuat, serta kemauan yang bulat. Dengan niat yang tulus, anda akan memiliki tekad yang kuat. Dengan tekad, anda akan mampu beramal. Seringnya beramal menghasilkan kebiasaan, dan kebiasaan adalah banyak dan berulangnya sesuatu.

Niat yang tulus itulah yang menghasilkan nurani yang suci. Bukan nurani yang digambarkan oleh sementara pakar ilmu jiwa yang katanya memelihara pribadi seseorang dari tekanan-tekanan yang ditimbulkan oleh dunia luar, agar tunduk kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh orangtua, masyarakt dan Tuhan. Bukan juga hati nurani yang timbul dari rasa benci yang mendalam, yang bila dinampakkan oleh “bawah sadar” berbenturan ia dengan selainnya, sehingga dengan terpaksa kebencian itu dikemas dengan “kasih” yang dimanipulasi, sehingga yang bersangkutan berpura-pura cinta dan senang kepada orang lain atau kebajikan.

Bukan ini dan bukan itu, tetapi hati nurani yang sadar dan berdialog dengan fitrah kesucian manusia, dan yang mengingatkannya dari saat ke saat tentang tujuan hidup yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, bukan juga hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Bukan hidup yang hanya sekarang dan disini, tetapi hidup yang berkelanjutan yang melampaui batas usia seseorang di pentas bumi ini, atau melampaui usia generasinya saja tetapi bahkan generasi manusia seluruhnya. Hati nurani yang menghasilkan pengawsan yang melekat pada diri seseorang yang timbul dari dalam, bukan dari luar pengawasan yang menghalanginya melakukan kedurhakaan sekaligus mendorongnya melakukan kebaikan kendati dia jauh dari pandangan manusia.

Dengan membiaskan diri sujud kepada Allah dalam pengertian diatas, akan terbentuk hati nurani yang benar-benar memiliki cahaya yang menerangi perjalanan manusia, memberinya bekal untuk membedakan yang haq dari yang batil, memisahkan yang salah dari yang benar, sehingga dengannya ia mengetahui kebajikan dan dosa, kendati orang lain memfatwakan sebaliknya. “Kebajikan adalah yang mantap dalam jiwa (yang suci), sedang dosa adalah keraguan dalam dada dan engkau enggan diketahui oranglain (bila melakukannya).”

Demikian Rasul saw. menyerahkan kepada jiwa setelah dibentuk menurut pola islami yakni dengan memperbanyak sujud menyerahkan kepadanya penilaian dan tolak ukur kebaikan dan keburukan sambil memberinya kemampuan melaksanakan yang baik dan menghindar dari yang buruk, sehingga pada akhirnya seseorang akan memperoleh surga bahkan akan hidup disana tidak jauh dari Rasul saw., sebagaimana diidamkan oleh Abu Firas. Semoga kita pun berada di sana bersama beliau.

http://www.indonesiaindonesia.com/f/92719-sujud-harga-surga/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s